This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 09 Maret 2021

Yat Lessie: Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional

 Cerita Inspiratif

Yat Lessie: Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional

Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional 

Calon Guru berbagi catatan Yat Lessie tentang "Dendam Sang Ayah dan Ujian Nasional".

Perasaan galau kembali menghampiri pelajar kelas XII SMA secara umum, karena Ujian Nasional tinggal beberapa minggu kedepan. Meskipun Ujian Nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan tetapi trauma Ujian Nasional ketika kelas IX SMP masih saja melekat, sehingga ketika mendengar Ujian Nasional menjadi sesuatu yang menakutkan.

Beberapa hari yang lalu mendapat cerita yang baik di media sosial, dimana cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi dari Bapak Yat Lessie. Pengalaman pribadi dari Bapak Yat Lessie ini sudah di share di facebook, ini mungkin dapat kita jadikan sebuah catatan agar anak tidak terlalu takut dalam menghadapai Ujian Nasional dan sebagai orang tua atau guru kita tidak memaksakan anak-anak untuk "hasil tertentu" pada Ujian Nasional.

Mari kita simak ceritanya;
Mampus aku...

Benar benar aku mati konyol, saat Pa Ubes, guru aljabar (matematika sekarang) SMPN 1 Cimahi, barusan berujar mantap. ....Anak-anak, keluarkan sehelai kertas, kita ulangan sekarang tentang pelajaran minggu kemarin....

Mati aku, minggu lalu aku absen sakit, dan aku belum sempat secuilpun membuat salinan pelajaran minggu lalu itu. Lalu sejam ulangan itu membuat berasa dalam neraka. Soal-soal yang tak kumengerti karena benar benar baru...

Esoknya, jam istirahat, emang pesuruh sekolah mendatangiku,...

Kamu dipanggil kepala sekolah , sekarang ! …. Kata si emang, tanpa basa basi. Temanku pada melongo, ada kepentingan apa aku dipanggil kepala sekolah. Aku berangkat, masuk ke ruang beliau, dan duduk dikursi didepannya.

Apa ini?...
Beliau menyodorkan selembar kertas. Aku menengok …. Dan wuiih, itu kertas lembaran soal ulangan aljabar kemaren. Diatasnya tertera angka 55 dibulati tinta merah. Urusan hasil ulangan buruk saja, sampe kepala sekolah yang turun tangan, buseeet dah !...

Lalu aku jelaskan saja seadanya, dan beliau paham. Maklum, kepala sekolah SMPN 1 ini, alm Bpk Juju Sayid adalah ayahku sendiri. Jadi sekali saja hasil ulanganku buruk, tak ada ampun, dipanggil sama kepala sekolah .. he he

Kamu sudah kelas 3, sebentar lagi ujian akhir nasional.... beliau menjelaskan.
Siap pak... Aku cuma bisa menggangguk dengan segumpal malu di benakku.

Bekal malu itu yang membuat 3 bulan menjelang ujian nasional, aku selalu membawa buku pelajaran kemanapun pergi, buat dibaca jika ada waktu senggang. Saat kami ngumpul di rumah Kang Heryadi Rahmat (sekarang Geolog terkemuka, pengarang buku "Tambora menyapa dunia") yang jadi markas bersama. Lalu bersepeda ontel keliling kota, lewat rumah teh Weni yang jadi gebetan cinta monyetku waktu itu. Bahkan bersarang dibatang pohon jambu batu, ambil posisi enak, makan jambu dan … baca buku.

Tak ada stress berlebih. Tak ada istigozah yang meratap ratap. Tak ada kesibukan mencari bocoran soal. Tak ada ortu yang mengancam-ancam kalau tak lulus. Tak ada guru atau kepala sekolah yang bicara target kelulusan. Semuanya biasa saja, ujian nasional berlangsung dan nilaipun keluar dengan serempak. Ada yang lulus dan ada yang tidak. Semuanya berjalan dengan biasa biasa saja, tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Bahkan gagal ujianpun hanya punya satu opsi, yaitu mengulang untuk tahun depan....

Saat lembar ijazah dan nilai akhir ujian nasional kuperlihatkan kepada ayah, sesuai dengan janjiku memperbaiki nilai Aljabar, ayah bersikap biasa juga…. Sok sekarang siapkan syarat pendaftaran ke SMAN 1 , dan sana pergi daftar sendiri. ...hanya itu pesan ayah.

Ayah tentu gembira melihat hasil ujianku. Namun hasil ujian bukan tujuannya. Beliau lebih melihat proses ketimbang hasil/result. Beliau lebih suka, ketika aku enjoy duduk dibatang pohon jambu didepan rumah, dengan buku ditangan, dibaca habis sampai "ngelotok" ...

Yang ayah ajarkan bukan nilai 10 yang sempurna, namun "there is a will there is a way". Sebuah kesungguhan yang beliau sendiri perlihatkan dalam keteladanan, dalam kehidupan kesehariannya. Saat uang sekolah terkumpul, beliau tak pernah pegang uang. Beliau panggil guru guru untuk menghadap, dan bertanya tentang kesulitan hidup. Lalu guru boleh mengambil bahan kebutuhan pokok untuk dibayar di saat gajian nanti. Saat uang cukup, beliau membuat 2 lapang basket di SMPN 1 dan SMPN 2 cimahi. Tujuannya sederhana saja, yaitu membuat anak peserta didik lancar dalam mengikuti proses pendidikan, sementara hasil akhir hanya konsekwensi logis, dan bukan semata tujuan.

Memang benar, ketika David Mc Leland ahli psikososial berujar, dalam sebuah negara yang tengah berkembang secara ekonomi, dibutuhkan 2 kriteria pokok. Yaitu munculnya masyarakat yang "achievement oriented" dan ke wira-usaha an. Ketika hal ini dibawa ke sistem pendidikan, maka orientasi achievement berubah menjadi "target kelulusan". Menjadi sebuah "harga-mati", dimulai dari sang menteri, gubernur, walikota, bupati, kepala dinas, kepala sekolah, guru , dst...

Penekanan berantai, dari atas menekan yang dibawahnya, sebuah threats motivation. Sampai pada kepala sekolah, guru dan tentu saja murid-murid di kelas-kelas akhir. Mereka harus menanggung beban, yang seharusnya bukan menjadi tanggungan mereka. Karena seringkali "target kelulusan" itu bukan diwilayah pendidikan, namun berada pada tataran politik, dimana sang pejabat membutuhkan dukungan untuk status-quo nya selama ini.

Acuannya, jelas berupa nilai akhir ujian nasional. Segelintir angka yang konon bicara tentang “kecerdasan” dan sekaligus sebagai bukti keberhasilan para pemegang otoritas. Jika tidak “achieved” maka mutasi ketempat terpencil dan gersang menjadi ancamannya. Padahal tak ada seorangpun yang mau berhadapan dengan resiko tadi. Lalu semua jurus dimainkan. Mulai dari bocoran soal, sampai kutak katik nilai akhir, dan tentu saja selalu dengan bumbu penyedap aliran uang. Mau sistem manual pake kertas, atau CBT (Computer Base Test) yang paperless... Sama saja , karena apapun itu, hanya sekedar alat , sekedar the gun, dan bukan "the man" behind it...

Saat kertas ijasah lusuh itu kugenggam kini, 46 tahun sudah terlewati. Lalu aku mafhum mengapa ayah bersikap biasa biasa saja melihat angka nilai kelulusanku. Karena angka itu hanya sekedar penguasan terhadap hardskills, dimana setiap orang juga bisa melakukannya. Ayah tidak hanya mengajarkan itu, karena yang terlebih penting adalah pada wilayah softskills, dimana will dan skills digabung menjadi kesatuan integratif.

Wilayah pendidikan harus keluar dari sistem dagang , sebuah dunia komersial layaknya salesman yang "achievment oriented", dan kembali pada "process oriented". Tak ada pemahaman tentang softskills yang sekedar dibaca dan dihapalkan, karena softskills hanya mampu dipahami dengan cara dilakukan saja. Hanya going in to the object it self, artinya cuma pendekatan proses saja yang mampu menumbuhkannya.

Saat itu dilakukan, tak ada lagi stress pada anak-anak didik saat masuk ke ujian nasional. Semua akan mengalir dengan begitu saja. Karena sistem pendidikan kembali pada fitrahnya, yaitu semata mata belajar tentang arti dan makna sebuah KESUNGGUHAN.

Kesungguhan yang sama,
yang beliau perlihatkan, saat dipanggil kehadirat Nya.
Tepat pada rakaat kedua sembahyang Isya.
Disana, diatas sajadah, beliau tersungkur lalu terbujur.
Nafas dan detak jantungnya sudah tak ada.
Namun
pelajaran tentang kesungguhannya
masih berdetak keras
masih mengalun deras
masih mengilhami kepala....

Salam rindu buat ayah tercinta...

Pelanggaran "Sederhana" Tetapi Menggambarkan Karakter Kita Sebenarnya

 Cerita Inspiratif

Pelanggaran "Sederhana" Tetapi Menggambarkan Karakter Kita Sebenarnya

Ceritanya Pelanggaran Sederhana Tetapi Menggambarkan Karakter Sebenarnya 

Calon Guru berbagi catatan inspiratif tentang: Pelanggaran "Sederhana" Tetapi Menggambarkan Karakter Kita Sebenarnya.

Hari ini upacara bendera berlangsung hikmat seperti biasa yang di lakukan di sekolah-sekolah pada umumnya. Selesai mengheningkan cipta suasana hikmat sedikit terganggu karena ada beberapa siswa membentuk barisan baru. Mereka tertangkap sedang sembunyi di dalam kelas dan tidak melaksanakan upacara bendera, padahal mereka dalam keadaan sehat.

Upacara bendera merupakan salah satu hal yang mungkin terlihat sepele atau sederhana karena dilaksanakan rutin setiap hari senin di sekolah pada umumnya. Meskipun upacara bendera merupakan sebuah rutinitas sederhana bukan berarti semata-mata kita atau para siswa dengan berbagai alasan menjadi kita hindari.

Pelanggaran "masalah sepele yang terlihat sederhana" seperti upacara bendera mengingatkan kita terhadap sebuah artikel yang sangat inspiratif yang sudah banyak dibagikan pada berbagai media sosial tentang Etika "sepele".

Banyaknya yang share artikel ini tanpa mengetahui dari mana asumber artikel ini yang sebenarnya, pun juga dengan saya. Jika Anda mengetahui sumber artikel ini mohon di konfrirmasi di kotak komentar🙏. Seperti apa ceritanya mari kita simak;

Etika "Sepele"?


Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia harus sambil kerja dan sambil kuliah. Dia perhatikan bhw sistem transportasi di tempat menggunakan sistem "otomatis", artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan periksa insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada.

Setelah dia temukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya dia perhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kepintarannya.

Dia juga menghibur dirinya karena dia anggap dirinya adalah murid miskin, dan kalo bisa irit ya irit..
Namun, dia tidak sadar dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruh karirnya...

Setelah 4 tahun berlalu,

dia tamat dari fakultas yang ternama dengan angka yang sangat bagus. Ini membuat dirinya penuh dengan keyakinan. Dia mulai memohon kerja di perusahan yang ternama di Paris dengan pengharapan besar untuk diterima. Pada mulanya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat.

Namun berapa hari kemudian,
semuanya menolak dia untuk berkerja.

Kegagalan yang terjadi berulang kali membuat dia sangat marah.
Dia mulai anggap perusahan-perusahan ini rasis, tidak mau terima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan managernya.
Dia ingin tahu alasan apa perusahan menolak bekerja.
Ternyata, penjelasannya diluar sangkaan dia...

Berikutnya adalah dialog mereka...

Manager: Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu. Pada saat anda mohon bekerja di perusahan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya pekerja yang kami cari-cari.
Wanita: Kalau begitu, kenapa perusahan tidak terima aku bekerja?

Manager: Karena kami periksa sejarahmu, ternyata anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.
Wanita: Aku mengakuinya, tapi masa karena perkara kecil ini perusahan menolak pekerja yang mahir dan banyak kali tulisannya terbit di majalah?

Manager: Perkara kecil? Kami tidak anggap ini perkara kecil.
Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini. Petugas percaya dengan penjelasan bhw anda masih belum mengerti sistem pembayaran. Diampuni, tapi anda tertangkap 2x lagi setelah itu.
Wanita: Oh karena tidak ada uang kecil saat itu.

Manager: Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan anda.
Jangan anggap kami bodoh. Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.
Wanita: Itu bukan kesalahan mematikan kan? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya berubah kan masih bisa.

Manager: Saya tidak anggap demikian. Perbuatan anda membuktikan dua hal:

  1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada
  2. Anda pintar mencari kelemahan dlm peraturan dan memanfaatkan utk diri sendiri.
  3. Anda tidak bisa dipercaya
  4. Banyak pekerjaan di perusahan kami tergantung pada kepercayaan. Jika anda diberikan tanggung jawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka anda akan diberikan kuasa yang besar. Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa pakai anda. Saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak ada perusahan yang mau pakai anda.

Pada saat itu, wanita ini seperti bangun dari mimpinya dan sangat menyesal. Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya gentar.
Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran.
Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk..!!!

Berkarya Dan Menghasilkan Uang Dengan Bakat, Hasrat dan Tekad

 Cerita Inspiratif

Berkarya Dan Menghasilkan Uang Dengan Bakat, Hasrat dan Tekad

Berkarya Dan Menghasilkan Uang Dengan Bakat, Hasrat dan Tekad 

Calon Guru berbagi catatan tentang "Berkarya Dan Menghasilkan Uang Dengan Bakat, Hasrat dan Tekad". Cerita tentang bagaimana menghasilkan uang pasti tidak ada habisnya. Cara menghasilkan uang juga banyak, tergantung kepada tingkat kreatifitas kita. Tingkat kreatifitas kita akan membawa kita bagaimana bisa berkarya dan menghasilkan uang?.

Berkarya dan menghasilkan uang adalah dua kegiatan pada tahap awal yang tidak bisa kita kerjakan sekaligus. Kita harus ganti kata penghubung dan menjadi lalu. Penggantian kata hubung dan menjadi lalu sangat penting, karena banyak pelajar, mahasiswa atau masyarakat pada umumnya berharap dari sedikit berkarya langsung bisa menghasilkan uang. Kalau bisa dengan sedikit berkarya langsung bisa menghasilkan uang maka angka kemiskinan di dunia ini sangat rendah.

Kita mulai dari hal yang sederhana, sejak sekolah dari SD, SMP, SMA dan sampai mahasiswa tiap masuk kelas pada umumnya kita dimintai karya (baca: pekerjaan rumah atau tugas). Sekarang, jika kita sudah menyelesaikan pendidikan pada perguruan tinggi maka coba dihitung berapa banyak karya yang sudah kita buat?, mungkin tidak ada yang bisa menjawab.

Konklusi yang bisa kita ambil adalah jika sudah menyelesaikan pendidikan dari perguruan tinggi maka sudah banyak karya yang kita hasilkan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah dengan karya-karya yang sudah kita hasilkan pada bangku sekolah sudah bisa menghasilkan uang?.

Sepertinya belum jaminan karya kita selama sekolah akan menghasilkan uang, karena karya-karya yang kita hasilkan pada bangku sekolah pada umumnya hanya bermanfaat kepada kita sendiri (*untuk dapat nilai bagus), belum bisa bermanfaat kepada orang lain.

Karya yang bisa menghasilkan uang pada umumnya adalah ketika karya kita bermanfaat bagi orang lain. Baik bermanfaat secara langsung misalnya peralatan-peralatan, bermanfaat secara perasaan misalnya lukisan, bermanfaat secara informasi misalnya surat kabar dan manfaat lain sebagainya.

Lalu apa yang harus kita lakukan? atau kita mulai darimana untuk berkarya?.

Darimana kita harus mulai atau apa yang harus kita lakukan kembali kepada pribadi kita masing-masing.

Berkarya Dan Menghasilkan Uang Dengan Bakat, Hasrat dan Tekad

Pada waktu libur kemarin saya banyak menyimak apa yang disampaikan iklan-iklan di tv salah satunya apa yang disampaikan pada iklan rokok. Pada iklan disampaikan bahwa pada diri kita masing-masing mempunyai hasrat dan bakat. Mungkin kita bisa mulai berkarya dari bakat dan hasrat kita ditambah dengan tekad.

HASRAT


Apa itu Hasrat..?,
Hasrat itu seperti angin...
Ia tak tak terlihat tapi ia ada...

Sesekali ia datang,...
Mengingatkanmu,...
Sadarkan kita akan pilihan...
Saatnya dengar dan wujudkan..!

BAKAT


Apa sich Bakat..?
Cuma lima huruf buatan manusia biar kita merasa kecil..,
Bakat itu tak dikasih, tapi diraih..,
Bakat yang sebenarnya adalah saat kita ga pernah menyerah..,
Bakat itu cuman omong kosong..!

TEKAD


Apakah Tekad..!
Tekad adalah semangat dan ketekunan untuk tujuan-tujuan jangka panjang...
Tekad berarti memiliki stamina...
Tekad melekat dengan masa depan Anda setiap hari, bukan hanya selama seminggu, bukan pula satu bulan, tapi untuk bertahun-tahun, dan bekerja benar-benar keras untuk membuat masa depan itu menjadi kenyataan...
Tekad adalah menjalani hidup seperti sebuah pertandingan lari maraton, bukan lomba lari jarak dekat..!

Seperti yang kita sampaikan di awal bahwa berkarya dan menghasilkan uang tidak bisa dikerjakan sekaligus tetapi ketika karya-karya kita sudah diterima orang lain kita sudah mampu untuk berkarya dan menghasilkan uang.

Selamat berkarya dan mudah-mudahan Tuhan merestui usaha-usaha kita dalam berkarya sehingga kita bisa berkarya lalu menghasilkan uang dan menghasilkan uang lalu berkarya.

Sebagai penutup jangan lupa untuk terus berdoa dimana kita juga mendoakan untuk karya-karya yang kita lakukan.

Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!

 Cerita Inspiratif

Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!

Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu! 

Calon Guru berbagi Cerita Inspiratif "Pakai Pakaian Lusuh Saat Rapat Wali Murid, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!".

Pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya, selesai pekerjaan yang satu lalu datang pekerjaan yang berikutnya lagi, itulah indahnya jadi guru. Yang buat lebih indahnya lagi penghasilan tidak bertambah meskipun pekerjaan bertambah. Tetapi meskipun pekerjaan terus berdatangan harus tetap semangat dan bersyukur apalagi setelah ketemu artikel pada forums merdeka berikut. Mari berbagi cerita apalagi ceritanya mungkin dapat menyemangati oleh orang-orang di sekitar kita.

Tepat pukul 7 malam, orang tua murid mulai masuk ke dalam ruangan kelas di sekolah. Beberapa orang tua terlihat penuh sopan santun, ada juga orang tua yang kelihatannya sombong, ada juga yang terlihat sangat berhati-hati. Pada saat guru mulai menutup pintu dan mulai berbicara, pintu yang baru saja ditutup terbuka kembali perlahan-lahan, seorang pria paruh baya, badannya kotor penuh dengan debu muncul dibalik pintu.

Dengan wajah yang tersenyum dia meminta maaf karena datang terlambat. Kehadirannya menarik perhatian orang tua murid lainnya. Dia mengenakan pakaian kerja yang sudah luntur serta penuh bercak cat. Celananya pekat dengan debu, dia memakai sepatu boot yang penuh dengan lumpur. Dia kelihatan seperti baru pulang dari kerja bangunan.

Guru itu berkata: "Permisi, Bapak siapa?" Pria paruh baya itu berkata: "Saya ayahnya Aminudin" Guru itu terlihat kaget, tapi segera meminta pria itu menandatangani buku kehadiran. Ayah dari Aminudin dengan muka yang tertunduk berkata: "Maaf, Pak Guru, saya tidak dapat membaca dan menulis..." Para orang tua murid lainnya terdengar ada yang mulai menertawakan, sang guru tersebut pun berkata: "Tidak apa-apa, saya yang akan membantu Bapak tanda tangan."

Kemudian guru tersebut mulai menjelaskan, tujuan diadakannya rapat orang tua murid adalah supaya setiap orang tua dapat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mendidik anak serta kesannya selama mendidik anak. Ada 2-3 orang tua murid membagikan pengalaman mereka dalam mendidik anak-anak mereka, yaitu bagaimana mereka mendidik anak mereka dengan ketat, supaya mereka mau menulis pr mereka, membantu anak-anak mereka mencarikan guru les tambahan, dll.

Pada saat guru tersebut meminta ayah dari Aminudin untuk berbicara, ia memperkenalkan, "Aminudin adalah seorang murid teladan dengan nilai terbagus di kelas. Pelajaran matematika selalu beroleh nilai terbaik, ia tidak pernah terlambat, selalu bersikap baik terhadap teman-temannya. Mari sama-sama kita dengarkan bagaimana ayah dari Aminudin mendidik anaknya."

Tidak sedikit orang tua murid lainnya tampak kaget. Bapak yang tidak terpelajar namun mempunyai anak yang hebat. Ayah Aminudin dengan agak sedikit canggung mulai berjalan ke depan. Ia sedikit tertunduk, tidak begitu berani menatap mata para orang tua murid lainnya. Ini perkataannya:
Saya hanya suka melihat anak saya mengerjakan PR nya. Setiap kali sepulang kerja, tidak peduli seberapa capeknya saya, saya pasti akan duduk di samping dia untuk melihatnya mengerjakan PR yang ada. Suatu hari, anak saya bertanya kepada saya,

"Ayah, setiap hari melihat saya mengerjakan PR, apa Ayah mengerti apa yang saya kerjakan?" Saya berkata "Ayah tidak mengerti." Kemudian anak saya bertanya: "Ayah, jika Ayah tidak mengerti bagaimana Ayah tahu saya mengerjakannya dengan benar atau tidak?"

Saya berkata: "Jika kamu mengerjakannya dengan cepat, maka Ayah tahu bahwa soal ini sangat mudah; jika kamu menyalakan kipas angin, mengambil minum, maka Ayah tahu bahwa soal tersebut susah."

Saya seorang buruh bangunan. Suatu kali saya mengangkat wajah saya dan melihat bangunan tinggi yang saya bangun, saya bertanya kepada anak saya, apakah kamu mau tinggal di rumah yang tinggi, yang besar, rumah yang indah? Mengendarai mobil bagus? Anak saya menganggukkan kepalanya. Saya berkata: "Oleh karena itu kamu harus belajar dengan baik."

Saya tidak sekolah, tidak dapat membaca dan menulis, saya tidak tahu bagaimana cara-cara hebat mendidik anak. Saya hanya suka bercakap-cakap dengan anak saya. Anak saya senang jongkok di samping saya pada saat saya bekerja. Saya tidak memberikan uang jajan kepada anak, ia tidak bermain internet, juga tidak belanja macam-macam. Dia sering di rumah membantu saya mencuci pakaian.

Setelah selesai berbicara, dia membungkuk untuk memberikan hormat kepada sang guru! Orang tua murid lainnya terpaku tak bergeming, hati mereka sangat tersentuh oleh perkataannya. Ayah ini meskipun tidak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak dalam keadaan ekonomi yang cukup, tetapi ia sangat hormat kepada guru. Dia juga senang menemani anaknya. Ini adalah caranya bagaimana dia berhasil dalam mendidik anak!

Kebenaran cerita diatas mungkin masih kita ragukan, tetapi kita punya beberapa catatan penting dari cerita diatas untuk kita terapkan dan kita bagikan kepada orang sekitar kita terkhusus kepada orang yang kita cintai.

Kisah Inspiratif Dosen, Jangan Mudah Mengambil Kesimpulan Karena Asumsi

 Cerita Inspiratif

Kisah Inspiratif Dosen, Jangan Mudah Mengambil Kesimpulan Karena Asumsi

Kisah Inspiratif Dosen, Jangan Mudah Mengambil Kesimpulan Karena Asumsi 

Calon guru berbagi artikel inspiratif dari seorang dosen. Pada pesan terakhirnya sangat baik kita ingat di dalam menjalani profesi kita sebagai seorang guru, terkhusus ketika harus mengambil keputusan di dalam menghadapi anak-anak yang sering membuat masalah di lingkungan sekolah atau lingkungan rumah.

Mari kita coba simak cerita inspiratit dari dosen keren yang sangat bijaksana ini:
Pada suaatu ketika ada sepasang suami isteri tergesa-gesa berlari menuju ke helikopter yang terlihat terbang rendah dari puncak gedung hotel, mereka berlari untuk menyelamatkan diri karena hotel yang mereka tempati mengalami kebakaran yang sangat besar pada lantai bawah dan jalan satau-satunya untuk menyelamatkan diri hanya melalui puncak gedung.

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa pada helikkopter hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Dengan segera dan cepat sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum helikopter menjauh...

Kejadian Berikutnya...
Api itu semakin membesar dan menghanguskan seluruh bangunan hotel, banyak tamu hotel yang menjadi korban kebakaran tersebut, ada yang mencoba melompat dari ketinggian dan ada juga pasrah menerima keadaan termasuk juga sang istri.

Dosen yang menceritakan kisah ini bertanya pada mahasiswa-mahasiswanya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan?

Sebagian besar mahasiswa dan dominan mahasiswi menjawab dengan cepat marah mengatakan:

  • Kamu JAHAT,
  • Aku benci kamu,
  • Kurang ajar...
  • Kamu egois,
  • Gak tanggung jawab,
  • Gak tau malu...kamu dsb..

Tapi ada seorang mahasiswi yang hanya diam saja, dan dosen itu meminta mahasiswi yang diam itu menjawab,

Kata si mahasiswi, Saya yakin si istri pasti berteriak... "Tolong jaga anak kita baik-baik."

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?
Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.

Dosen itu itu menatap seluruh kelas dan berkata:,
Jawaban ini benar,......

Hotel itu kemudian benar-benar terbakar habis... dan... sang suami harus kembali ke kota kecilnya dengan air mata yang terus menetes harus menjemput anak-anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah Taman kanan-kakan (TK) dan BALITA. Sang dosen kembali untuk mengasuh anak-anak mereka sendirian, dan kisah tragedi tersebut di simpan rapat rapat....tanpa.... pernah dibahas lagi.

Ber-tahun-tahun kemudian, anak anak itu sudah menjadi dewasa....
Ada yang menjadi pengusaha... Ada yang menjadi Dokter.... dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.

Pada suatu hari ketika anak bungsu nya bersih-bersih kamar sang Ayah... anak itu menemukan buku harian ayahnya, dia menemukan kenyataan bahwa saat orang tuanya ke hotel itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dan dia menulis di buku harian itu:
"Betapa aku berharap untuk sang istri yang naik ke Helikopter itu.."
Isteriku sayang, tapi demi anak-anak kita, terpaksa dengan hati menangis membiarkan kamu terbakar sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan kepada kedua kakak nya, dan mereka bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus, mereka sujud mencium kaki sang Ayah bergantian dan mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua, sekalipun dengan beban mental yang demikian berat.

Cerita sang dosen itu selesai, dan seluruh kelas pun terdiam.
Dosen itu kemudian berkata;
Siapakah sang Ayah?
Sang Ayah itu saat inilah yang ada di hadapan kalian,
Mahasiswa dan mahasiswi nya segera berlarian memeluk sang dosen.

Mereka sekarang mengerti hikmah dari cerita nyata tersebut, "Bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti."

Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

  • mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan dari pada uang,
  • mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab,
  • mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain,
  • mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, tapi karena menganggap kita adalah sahabat,
  • mereka yang sering mengontakmu, dan mengajakmu reuni atau silahturahmi bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya

Di akhir kelas, sang dosen memberikan pesan "Jangan Mudah Mengambil Kesimpulan Karena Asumsi"

Aku Korban Kekerasan Guruku

 Cerita Inspiratif

Aku Korban Kekerasan Guruku

Aku Korban Kekerasan Guruku 

Calon Guru berbagi artikel inspiratif di dapat dari media sosial WhatsApp, yang sudah menjadi alat komunikasi sejuta umat saat ini. Sebuah catatan baik (*bahkan sangat baik) yang bisa kita jadikan catatan sebagai seorang guru, sebagai seorang siswa, terlebih lagi sebagai orangtua. Mudah-mudahan cerita ini mempunyai feedback yang positif juga kepada masyarakat banyak, atau sedikit banyaknya dengan harapan dapat memperbaiki kualitas "kids zaman now".

Perkenalkan, aku Indah. Lulusan terbaik Universitas Negeri Jakarta.
Kapan aku duduk di bangku SD? Pada masa teknologi masih Radio dengan antena, dan Televisi masih hitam putih dikeroyok semut.

Aku korban kekerasan guru sejak kelas tiga SD. Masih segar di ingatan, wali kelasku, Pak Yunus, berteriak marah, "hey, kamu! Maju ke depan kelas!" Dengan wajah menantang aku berdiri, menghampiri beliau.

"Selesaikan soal ini!" Lelaki empat puluh tahun itu memukul papan tulis dengan penggaris kayu. "Salah sedikit saja, habis kamu!" Aku dengan yakin mengerjakan soal matematika yang ia berikan.

"Sudah, Pak." Aku berseru dengan sombong. Yakin kalau jawabanku pasti benar.

Tapi...
Plak...! Penggaris dengan panjang satu meter itu mendarat di tubuh bagian belakangku. "Kamu perempuan, tapi bengal minta ampun! Duduk!" Aku kembali ke kursi sambil mengusap bagian yang sakit.

Di lain kesempatan, saat aku kelas lima, aku di panggil wali kelas dua, guru wanita yang terkenal killer, kejam dan suka menghukum. Namanya Bu Hernita. Matanya menakutkan, selalu membawa rotan di tangannya.

"Indah, kamu tadi memukul siswa kelas dua. Betul?" Aku biasanya selalu berani menghadapi guru, tapi hari itu, aku tertunduk takut. "Jawab...!" Wanita itu berteriak sambil memukul meja.

Aku benar-benar mati gaya waktu itu. Darah premanku menghilang. Padahal aku sudah sering dipanggil guru, tapi selalu selamat dari guru satu ini. Tapi kali ini, sepertinya adalah hari sialku.

"Kemari...!" Tanganku di tarik mendekat, "kepalkan tanganmu!" Aku menuruti, dan tiga puluh pukulan mendarat di kepalan tangan kecilku. Menangis? Ya, aku menangis, tentu saja, kalian boleh mencobanya, kalau tidak percaya, rasanya sakit!

"Aku akan laporkan pada ayahku!" Aku menangis dan berteriak, mengambil tas di kelas dan berlari pulang.

Tiba di rumah, aku menceritakan semuanya dengan jujur. Apa tanggapan ayahku? Dia menggandeng tanganku, dan kembali ke sekolah. Aku tersenyum penuh kemenangan.

"Rasakan...." kataku dalam hati.
Tapi... tiba di sekolah, Ayah menghampiri Bu Hernita, dan berkata, "hukum dia lebih keras lagi, Bu, karena dia tidak sadar apa kesalahannya." Ayah meraih penggaris dan memukul tanganku berulang kali. Dan Bu Hernita menghentikan tindakan Ayah. "Di sekolah, hanya kami yang boleh menghukum. Bapak boleh pulang…!" tegas Bu Hernita.

Setelah Ayah pulang, Bu Hernita membawaku ke lapangan. Mengumpulkan semua siswa.

"Dengar semuanya! Mulai hari ini, Ibu tidak mau ada yang berteman dengan Indah … kalau ada yang berteman, akan Ibu hukum! Faham?" Tatapan Bu Hernita beralih padaku, "dan kamu, kalau masih bersikap seperti ini. Ibu akan keluarkan kamu dari sekolah!" Kemudian beliau berlalu begitu saja.

Terhitung sejak hari itu, aku tidak memiliki satu orang teman pun. Semua teman menjauh setiap kali aku mendekat.

Aku sudah kelas lima menuju kelas enam waktu itu, usiaku bukan balita lagi. Aku sudah remaja, seharusnya sikapku tak seburuk itu.

Sampai pada puncak yang membuat aku terpukul lebih keras dari pukulan Bu Hernita, sore itu sepulang sekolah aku di panggil kepala sekolah. Saat aku masuk, ada Bu Hernita di sana.

"Indah, nilai kamu sejak kelas satu tidak buruk. Kelas satu sampai kelas dua, kamu selalu juara umum. Apa kamu tidak bertanya-tanya, kenapa di kelas tiga sampai kelas lima kamu tidak juara?" Kepala sekolah ku bernama Pak Sudirman, orangnya sangat lembut. Berbicara dengan penuh kasih sayang, "nilai kamu masih tinggi. Bahkan lebih tinggi dari peraih juara umum kita. Tapi perilaku kamu ini, yang membuat nilai angka rapormu tidak ada gunanya."

Aku tertunduk, Bu Hernita mengusap kepalaku. "Kemari, dengarkan Ibu." Jujur baru sekali itu aku melihat Bu Hernita selembut kapas berbicara padaku.

"Kamu tahu, Ndah? Apa yang paling berguna? Bukan angka-angka di rapor itu. Melainkan … ini." Tangan beliau menyentuh dadaku. Aku sudah remaja waktu itu, dan sudah sangat memahami maksud beliau. Bagaimana rasanya? Malu! Ingin menangis, tapi tidak bisa. Jadinya? Sesak di dada!

"Begini, apa Ndah mau berubah? Karena kalau Ndah seperti ini terus, sekolah tidak akan meluluskan." Aku melihat ke arah Bu Hernita, aku tahu beliau serius.

"Mau berubah?" Bisik beliau pelan. Aku mengangguk. Pelan.
"Ndah janji, Ndah berubah, Bu. Ndah janji gak nakal lagi!"

Menjadi siswa yang Baik

Sejak hari itu, aku adalah Indah yang baru. Aku terlahir menjadi pribadi yang berbeda. Dan benar saja, saat kelas enam, aku kembali meraih juara umum.

Aku lulus tes dengan nilai terbaik di SMP favorit. Juga masuk dan lulus SMA dengan nilai yang masih sangat memukau, hingga aku berhasil meraih beasiswa sampai menyelesaikan S1.

Ketika lulis SMA, aku berkunjung kerumah Bu Hernita, menanyakan satu hal yang dulu tidak berani aku tanyakan.

"Kenapa di rapor, meski aku tidak juara, nilaiku masih di tulis dengan jujur?"
Beliau menjawab, "karena itu nilai kamu. Kami tidak berhak mempermainkannya."

Bertanya-tanya apa saja kenakalanku? Banyak teman-teman. Aku memukul adik dan kakak kelas, padahal mereka tidak sengaja menginjak kakiku waktu antri beli makan di kantin. Aku membuang buku PR teman sekelas yang sering mengangguku, terlebih aku ini perempuan. Dan masih banyak lagi kenakalanku yang lain, sejak kapan? Sejak aku kelas tiga. Luar biasa bukan? Ya, aku anak nakal yang selalu di pukul oleh guru, nyaris setiap hari.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang berhasil meraih gelar sarjana dengan masa kuliah tiga tahun.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang setiap hari memiliki luka di bagian jari.
Apakah kedua orang tuaku melaporkan mereka? Ooh tidak! Orang tuaku tahu, bagaimana sifat dan sikapku. Itulah kenapa mereka akan tambah memarahiku, setiap kali aku terkena hukuman.

Akulah Indah, korban kekerasan guru, yang sangat berterimakasih pada rotan dan penggaris kayu itu.
Namaku, Indah. Aku bahagia guruku pernah memukul saat aku nakal.

Terimakasih, Bu Hernita, rotan itu bukan hanya melukai tanganku. Tapi juga berhasil memukul keras batu yang ada di hatiku.

Beliau selalu memanggilku "Ndah" kalau aku sedang tidak bermasalah. Tapi saat aku berbuat salah, beliau akan menyebut namaku "Indah!" Dengan sangat keras.

Aku memakai nama 'Ndah' karena aku berterimakasih pada beliau.

😊😊😊

Bu, Pak, tahukah anda?

Hanya anda yang tahu karakter anak-anak anda. Bagaimana bisa anda lepaskan tanggung jawab kepada gurunya di sekolah? Tapi anda menahan hak didik bagi mereka atas anak anda.

Bu, Pak, pikirkanlah, apakah mungkin seorang guru tiba-tiba memukul siswanya tanpa kesalahan?

Bu, Pak, mereka menggunakan tangan untuk menjewer. Tapi mereka menghabiskan setengah hidupnya untuk keberhasilan anak anda.

Saat anak anda menjadi dokter, anda berkata dengan bangga, "ini anakku, menjadi dokter karena kerja kerasku!"

Bu, Pak, pernahkah saat anak anda pintar membaca, lantas anda berterimakasih, pada gurunya?

Saat anak anda pandai menghitung, pernahkah berpikir untuk mendoakan gurunya?

Bu, Pak, kalian mengirim mereka ke sekolah, karena kalian tahu, mereka butuh seorang guru. Lantas, mengapa saat anak anda mendapat secuil cubitan, jeweran, lantas anda melaporkan gurunya ke polisi? Memenjarakan gurunya begitu saja.

Bu, Pak, anda tahu karakter anak anda. Pikirkanlah kenapa mereka di jewer, di cubit. Karena gurunya menyayangi mereka, memperlakukan mereka seperti anak sendiri.

Bu, Pak, aku bukan guru, tapi aku adalah korban kekerasan guru, dan aku bangga guruku bersikap keras terhadapku. Karena kalau tidak, maka aku tidak akan seperti sekarang.

Bu, Pak, tidak perlu membawa bingkisan untuk gurunya. Cukup hargai mereka, tundukkan kepala dan ingat bagaimana peranannya untuk masa depan putra dan putri anda.

Mereka guru, dengan tulus mendidik, tapi di rumah, anda memberi anak-anak dengan gadget, dan tontonan televisi yang tak bermoral. Lalu, anda menyalahkan guru ketika anak anda berperangai buruk.

Kilau emas yang anda pakai itu, adalah hasil kerja keras penambang yang digaji tak seberapa.
Begitulah kerasnya kerja seorang pembentuk, seperti guru.
#LoveForTeacher

Jika kita ikuti alur cerita diatas, kemungkinan penulis cerita ini satu angkatan atau tidak jauh beda dengan masa-masa dimana Dilan masih sekolah, hanya saja cerita ini disampaikan tidak sepuitis Dilan menceritakan kisahnya.

Sampai saat ini saya masih mencari sosok yang bernama Indah yang berani menuliskan kisahnya ini, terima kasih saya ucapkan untuk mu Indah. Cerita ini memberikan angin segar kepada guru bahwa tidak semua kekerasan yang dilakukan oleh guru itu akibatnya tidak baik, seperti yang disampaikan oleh para pejabat-pejabat yang katanya pelindung anak-anak.

Thomas J. Stanley: 10 Faktor Penunjang Kesuksesan

  Cerita Inspiratif

Thomas J. Stanley: 10 Faktor Penunjang Kesuksesan

10 Faktor Utama Penunjang Kesuksesan. Mungkin kita pernah atau sering bertanya dalam hati, bagaimana caranya untuk bisa sukses? atau kenapa orang lain sepertinya semakin sukses?.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin catatan hasil riset dari Thomas J. Stanley, Ph.D ini bisa membantu menjawab pertanyaan tersebut. Riset itu bukan sekedar penelitian, tetapi riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Jadi hasil riset sudah bisa diakui sebagai hasil yang akurat.

Thomas J. Stanley, Ph.D, penulis buku Millionaire Mind, pernah melakukan riset tentang 100 faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Riset dilakukan di Amerika dengan total 1001 responden, dimana 733 responden adalah miliuner.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa memiliki IQ yang tinggi/superior, sekolah di sekolah favorit atau perguruan tinggi bergengsi bukan termasuk dalam 10 faktor utama menentukan kesuksesan seseorang. Seperti hasil riset ini mempunyai benang merah dengan catatan kta sebelumnya IQ Anda Bukan Satu-satunya Penentu Kesuksesan.

Mari kita simak, apa saja yang menjadi faktor utama penentu kesuksesan seseorang yang telah berhasil di terapkan oleh para miliuner.

1. KEJUJURAN (Being honest with all people )


Sikap jujur menjadi norma yang harus dipegang teguh oleh tiap individu. Kejujuran adalah akar kepercayaan. Begitu mahal harganya. Rentan membuat seseorang terjatuh. Semakin dipercaya akan sebuah tanggung jawab, semakin banyak hak (imbalan) yang bisa kita peroleh.

Di dunia kerja, ataupun dalam bisnis, semakin dipercaya oleh atasan atau klien, maka peluang untuk meniti karir atau mengembangkan bisnis akan terbuka lebar, dan kesuksesan akan menghampiri Anda.

2. DISIPLIN KERJA KERAS (Being well-disciplined)


Disiplin erat kaitannya dengan manajemen waktu dan konsistensi terhadap langkah-langkah mencapai tujuan atau visi ke depan. Ada banyak godaan saat kita akan melangkah. Terkadang lingkungan sekitar menjadi sumber yang mengalihkan fokus terhadap langkah mewujudkan visi.

Dengan menanamkan sikap disiplin, setiap langkah kita akan fokus mencapai target. Perlahan dan pasti target yang selalu ditetapkan akan mengantarkan pada pencapaian sukses yang ingin diraih.

3. MUDAH BERGAUL (Getting along with people)


Cara kita berinteraksi dengan orang lain dalam hidup adalah salah satu faktor penting untuk mencapai kesuksesan. Masing-masing pribadi punya goal achievements yang berbeda satu sama lain. Orang-orang di sekitar kita bisa menjadi penolong, atau bahkan penghambat dalam meraih kesuksesan. Harus ada semacam filter dalam diri Anda. Jangan sampai pengaruh negatif menghambat langkah mencapai tujuan.

Memperbanyak networking juga akan memperkaya ide, dan bukan tidak mungkin terjalin banyak kerjasama yang akan mendukung meraih sukses.

4. DUKUNGAN PENDAMPING (Having a supportive spouse)


Dukungan yang sangat berarti adalah dukungan yang berasal dari orang terdekat. Selain keluarga, pasangan adalah orang terpenting yang mampu memberikan dukungan besar bagi kesuksesan Anda.

Studi yang dilakukan Washington University di St. Louis menemukan bahwa, pasangan hidup yang saling mendukung mampu menciptakan hubungan yang harmoni, saling melengkapi kemampuan, dan mampu meningkatkan prestasi kerja, sehingga peluang untuk mencapai kesuksesan akan terbuka lebar.

5. KERJA KERAS (Working harder than most people)


Bekerja keras memang bukan menjadi jaminan mendatangkan kesuksesan. Tetapi akan ada hasil yang membedakan pribadi pekerja keras dan yang tidak, termasuk bagaimana kita mensyukuri segala pencapaian atas usaha dan kerja keras.

Bekerja lebih keras dari orang lain berkait erat dengan keinginan dan kedisiplinan untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam diri Anda.

6. KECINTAAN PADA YANG DIKERJAKAN (Loving my career/business)


Karir ataupun bisnis adalah sumber kekuatan finansial. Jika ingin sukses wajib untuk menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas pada pekerjaan yang Anda tekuni. "Karyawan dapat memberikan performa luar biasa bahkan 100% kinerjanya jika mereka loyal terhadap perusahaan," kata Joyce Gioia dari The Herman Group, konsultan yang berbasis di Greensboro, North Carolina.

Jadi ketika bekerja atau menjalankan bisnis, pastikan untuk mencintai apa yang akan Anda kerjakan. Agar performa dan kinerja maksimal, sehingga menghasilkan kesuksesan yang juga maksimal pastinya.

7. KEPEMIMPINAN (Having strong leadership qualities)


Faktanya, tonggak sebuah kesuksesan memang dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan yang baik, termasuk bagaimana memimpin diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki jiwa leadership, tergantung bagaimana memupuk dan menjadikannya mengakar pada tiap individu. Seseorang yang memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan kuat, akan lebih mudah menentukan visi, tujuan, dan tindakan terstruktur yang sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Kualitas kepemimpinan yang baik dalam diri seseorang, mampu memandunya untuk menghasilkan sebuah pemikiran dan periaku yang akan menjadi habit dalam kesehariannya.

8. KEPRIBADIAN KOMPETITIF (Having a very competitive spirit/personality)


Pribadi yang kompetitif pantang menyerah, terutama dalam mengalahkan ego dan kekurangan dirinya. Memiliki jiwa pembelajar. Bagi pribadi seperti ini, kompetisi mampu mendorongnya untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik dalam mencapai target. Tiap target dan pencapaian yang diraih merupakan anak tangga menuju pintu kesuksesan.

Semakin sering memacu diri untuk berkompetisi dan mencapai hasil terbaik, maka kesuksesan akan semakin cepat diraih.

9. HIDUP TERATUR (Being very well-organized)


Hidup teratur bukan berarti hidup dengan rutinitas membosankan. Beberapa rutinitas seperti bangun pagi lebih awal misalnya, akan memberikan waktu lebih untuk Anda menyiapkan diri menjalani hari.

Disamping itu membuat jurnal dan daftar pencapaian, akan membantu untuk fokus pada tiap langkah mencapai kesuksesan, dan yang tak boleh terlewatkan adalah menjalaninya dengan senang.

10. KEMAMPUAN MENJUAL IDE (Having an ability to sell my ideas/products)


Kesuksesan tak bisa lepas dari ide dan inovasi. Setidaknya Anda bisa meneladani bagaimana Colonel Sanders menjual ide "11 Rempah Rahasia KFC", dan inovasi Steve Jobs untuk sentuhan artistiknya pada Apple.

Memiliki ide saja tak cukup tanpa diimbangi kemampuan untuk menjualnya. Menghasilkan inovasi dari sebuah ide yang cemerlang harus diikuti dengan kemauan untuk hidup di dalam ide itu sendiri, dan menjualnya. Kemauan keras untuk live in a brand sebagai wujud sebuah ide, akan memudahkan Anda untuk melakukan branding atas ide yang dihasilkan.

Apakah sudah terjawab pertanyaan awal kita?. Setelah membaca dan mengetahui rahasia sukses orang-orang besar. Sekarang kita tinggal mencoba melakukan hal-hal baik di atas dan mudah-mudahan nantinya menjadi subuah habit yang baik.

Dari semua faktor yang disampaikan diatas jangan lupa dengan faktor utama yang menentukan kesuksesan yang tidak disampaikan di atas yaitu Misteri Iman kita, kita harus tetap menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan pencipta kita.

Kisah Nyata Mahasiswa UNPAD Sangat Menginspirasi: Keyakinan Dapat Mengalahkan Segalanya

 Cerita Inspiratif

 Kisah Nyata Mahasiswa UNPAD Sangat Menginspirasi: Keyakinan Dapat Mengalahkan Segalanya

Kupandangi bintang dilangit timur, memberikan senyuman dengan kedipan-kedipan semangat. Sejenak aku terdiam mengikuti bayang-bayang yang membawaku ke alam bawah sadar, mengingat kembali memori-memori hidup yang penuh dengan perjuangan, harapan, cita-cita dan impian besar yang selalu aku katakan kepada bintang di timur sana, kabulkalah semua doaku ya Allah.

Namaku Anas Anwar Nasirin, nama yang memiliki arti mulia "Manusia Cahaya Penolong". Aku anak pertama dari tiga bersaudara, adiku yang pertama bernama Wawat Karwiti lahir tahun 2001 dan adiku yang ke dua bernama Riyad lahir tahun 2005. Ayahku bekerja sebagai pedagang peci dan ibu bekerja sebagai buruh tani. Aku sangat sayang kepada ayah dan ibu. Ayah orangnya pinter, disiplin dan dia selalu berpesan agar aku sholat tepat waktu. Begitupun ibu, orang tersuper di dunia, selalu tegar, semangat, tegas dan sangat menyayangi aku.

Dunia tidak terbatas tapi tidak abadi juga, saat bersyukurlah kebahagiaan besar yang aku dapatkan. Tahun 2005 adalah tahun yang sangat bersejarah, saat itu aku kelas II SD, Wawat berusia 4 tahun dan Riad masih dalam kandungan. Musibah besar menimpa keluargaku, kios tempat ayah berjualan kebakaran. Setelah peristiwa tersebut aku sering melihat ayah melamun bahkan ibu dan ayah sering bertengkar.

Seringkali aku menangis saat terbayang pertengkaran ayah dan ibu, tanpa terasa saat menjelang tidur air mataku jatuh membasahi bantal. Beberapa hari setelah pertengkaran terjadi, ayah pamit akan pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan pikiran dan mencari biaya lahiran adiku yang ketiga. Selama ayah pulang aku sangat kesusahan, ibu tidak bisa kerja, Wawat sering rewel, hutang ke tetangga sangat banyak, seringkali aku makan di rumah tetangga karena di rumah ibu sering sakit-sakitan dan tidak punya beras.

Mendungnya awan disambut gelapnya malam, ditengah kondisi ibu hamil tua aku mendapatkan kabar ayah menderita gangguan jiwa. Mataku tak kuasa menahan tangis saat memandang ibu memeluk Wawat dan air mata membsahi pipinya. Sejak saat itulah hanya ibu seorang diri yang mengasuh, membiayai, dan merawat aku, Wawat dan Riad.

Setelah ayah sakit aku jarang bertemu ayah karena ayah tinggal di Cibalong (Kampung halamannya) dan aku tidak memiliki biaya untuk menjenguknya. Sejak kelas III SD agar aku bisa jajan dan sedikit bantu ibu, setiap pergi ke sekolah sambil jualan gorengan dan Es, walaupun upahnya tidak besar aku sangat bersyukur setidaknya bisa jajan seperti teman-temanku yang lainnya.

Empat tahun sudah ayah sakit dan kini Riyad sudah berusia 3,5 tahun begitupun aku sudah kelas VI SD dan sebentar lagi siap menjadi bagian dari OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan dan hidup adalah tantangan yang harus dihadapi.

Keinginannku untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) terhalangi karena ibu tidak sanggup dan tidak mumpunyai biaya untuk biaya kedepannya. Disisi lain guruku terus memberikan semangat agar aku melanjutkan sekolah bahkan aku akan dibelikan baju, tas, sepatu dan peralatan sekolah yang lainnya.

Aku sangat semangat dan keinginanku sangat besar untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP, aku yakinkan diriku "tidak apa-apa ya Allah aku sekolah sampai SMP (Sekolah Menengah Pertama) yang penting sekarang aku bisa sekolah SMP, aku berjanji ya Allah kalau aku bisa sekolah SMP aku akan belajar dengan maksimal dan aku akan berusaha agar bisa masuk rangking 3 besar".

Yang kedua kalinya aku yakinkan kepada ibu, aku benar-benar ingin sekolah SMP "Emak, aku tau hidup kita susah, tapi saya ingin sekolah SMP" Emak sempat marah dan menyuruhku untuk kerja ke Bandung dan Jakarta seperti teman-temanku yang lainnya. Saat itu aku bingung "bagaimana caranya agar aku bisa sekolah SMP?" hati positifku terus meyakinkan "aku pasti bisa sekolah SMP".

Aku mau aku mampu, ungkapan ini membuktikannya, aku medapatkan kabar bahwa pak Homidin (tetanggaku) punya sodara yang bekerja di Panti Asuhan. Dengan semangat aku bilang dan memohon restu agar ibu mau mendaftarkan dan mengizinkanku tinggal di Panti Asuhan.

Akhirnya ibu mendaftarkanku kepada Pak Homidin agar bisa tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid Subang. Hari Jumat 10 Juli tahun 2009 aku berangkat ke Panti Asuhan Al-Rasyid diantar Pak Homidin, saat itu ibu tidak memiliki uang sepeserpun, kecuali uangku Rp100.000 sisa pemberian dari BSM (Bantuan Siswa Miskin). Aku gunakan uang tersebut untuk ongkos perjalanan ke Subang Rp75.000 dan Rp25.000 lagi untuk bekal selama di Panti Asuhan.

Menjelang keberangkatan aku cium tangan dan kaki ibu, saat itu juga aku menangis, aku memohon ridho dan doa terbaik darinya. Saat aku sudah duduk di kursi bus aku fokuskan pandanganku keluar jendela memandang wajah ibu dengan lambaian tangan dan harapan doa terbaik agar kelak dikemudian hari, saat aku kembali ke kampung halaman membawa kesuksesan dan kemanfaatan besar.

Segala sesuatu tergantung kepada niat, kehidupanku di Panti Asuhan Al-Rasyid jauh lebih baik dibandingkan saat aku tinggal di rumah, aku belajar dengan maksimal dan membuktikan janjiku "Jika aku bisa sekolah SMP".

Kelas VII semester 1 dan 2 aku mendapatkan rangking 3 dan 2 dari 30 siswa. Aku sangat bahagia karena sebelumnya selama SD biasanya aku rangking, 19, 18 dan 13 dari 24 siswa. Aku memiliki teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia (NTT, Lampung, Cianjur, Banten, Bogor, dan Bandung).

Meski sering kangen kepada ibu dan adik karena dalam satu tahun aku hanya pulang satu kali saat hari raya Idul Fitri. Mentari tenggelam disambut gelapnya malam, kelas VIII semester dua, aku mendapatkan kabar, ayah meninggal dunia. Saat itu aku hanya bisa menangis dan berusaha menguatkan hati karena aku sedang ujian (tidak bisa izin pulang).

Tiba-tiba Aku teringat Riad, dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan mungkin wajahnyapun tak ingat, dan sekarang harapan untuk berjumpapun tidak mungkin kecuali di alam mimpi dan di akhirat kelak. Disisi lain aku sangat besyukur karena aku masih bisa merasakan kasih sayang ayah dibandingkan dengan Wawat dan Riad. Semangatku semakin membara dan tekadku semakin kuat, aku berjanji, selesai SMP aku harus melanjutkan ke SMA (Sekolah Menengah Atas), aku harus sukses, aku harus menjadi contoh untuk kedua adiku dan bermanfaat untuk keluarga dan orang banyak.

Tiga tahun sudah aku tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid dan sekarang aku sudah dinyatakan lulus UN (Ujian Nasional) dengan nilai yang membanggakan. Bu Ina (pengurus Panti Asuhan) memanggilku,"Nas, Ini ada telepon dari ibu kamu". Aku mengangkat telepon tersebut dan berbincang banyak dengan ibu sambil mengatakan kebahagianku sudah lulus UN dengan nilai yang membanggakan.

Hampir satu jam aku berbincang dengan ibu, ternyata ibu menyuruhku keluar dari Panti Asuhan Al-rasyid agar aku bekerja di konveksi milik bibi. Aku sangat sedih mendengar kabar ini, tapi bagaimana lagi? Ini perintah ibu dan memang sudah saatnya aku membantu ibu untuk membiayai ke dua adiku.

Tanggal 5 Mei 2012 aku resmi keluar dari Panti Asuhan Al-Rasyid. Dengan muka bahagia aku membeli buah-buahan dan keripik pisang oleh-oleh untuk ibu, Wawat dan Riad dan aku ingin cepat-cepat berjumpa dengan mereka. Sudah 3 minggu aku tinggal di rumah tapi perasaanku tidak enak dan batinku semakin menuntutku agar melanjutkan sekolah ke SMA, aku tidak mau bekerja yang ada dalam pikiranku,"Aku harus sekolah sampai SMA".

Aku coba katakan perasaanku kepada ibu, ternyata ibu tak mengizinkanku karena tidak mumpunyai biaya. Aku coba menghubungi pengurus di Panti Asuhan Al-Rasyid "semoga saja aku bisa diterima lagi di sana" ternyata jawabannya "Anas, kamu tidak bisa diterima sebagai anak asuh di Panti Asuhan Al-rasyid, karena keluarga kamu sebelumnya yang meminta keluar". Mendengar jawaban ini aku sangat terpukul, hanya keyakinanku kepada Allah dalam doa sepertiga malam dan duhaku agar Allah memberikanku rizki, aku bisa sekolah SMA.

Yang kedua kalinya aku yakinkan dan katakan kepada ibu, "aku ingin sekolah SMA" Ibu tidak merespon banyak. Dengan nada marah dan air mata membasahi pipi aku memaksa dan mengancam ibu "ibu saya ingin sekolah SMA, kalau ibu tetap memaksaku untuk kerja dan tidak mengizinkanku sekolah SMA, aku akan kabur dari rumah dan ibu mohon jangan cari dan anggap aku anak" aku ungkapkan kata-kata itu secara tidak sadar karena sangat besarnya keinginanku untuk sekolah SMA.

Ibu memeluku sambil menagis. Keesokan harinya aku dan ibu mencari informasi seputar Panti Asuhan di Tasikmalaya. Aku mendapatkan informasi, di Tasikmalaya ada Panti Asuhan Taman Harapan dan reputasinya lumayan baik. Tanggal 17 Mei 2012 aku mendaftar ke Panti Asuhan Taman Harapan, hasil yang aku dapatkan sangat menyedihkan aku tidak diterima karena di Panti Asuhan tersebut hanya menerima Anak SD dan SMP. Setiap kali melihat anak tetangga yang sekolah SMA aku sangat iri dan ingin sekali aku seperti dia bisa sekolah SMA. Aku buatkan puisi dan aku tuliskan di buku harian "Aku ingin sekolah SMA".

Apa yang aku pikirkan berbanding lurus dengan sesuatu yang Allah berikan. Alhamdulillah aku mendapatkan informasi, di Kecamatan Cisarua, Kab. Bandung Barat terdapat Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa. Aku mencoba daftar dengan menghubungi no HP pengurus Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Alhamdulillah dengan izin Allah aku diterima dan disuruh secepatnya berangkat ke Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Hari Jum’at 30 Juni 2012 aku berangkat ke Pondok Pesantren yatim piatu dan Dhuafa Darul Inayah.

Aku niatkan untuk sekolah sebaik-baiknya dan menaati peraturan Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. banyak perubahan yang terjadi kepadaku selama tinggal di Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah dengan peraturan yang sangat jauh berbeda ketika aku tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid. Harus bangun jam 3:25 WIB, piket masak nasi, sholat tahajud, sholat duha, hapalan Qur’an, berkebun, sekolah, hapalan amaliah ibadah, ngaji kitab kuning dan aku baru bisa tidur jam 22:10 WIB.

Bahagia, semangat,sedih, dan kecewa merupakan makananku selama di Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Saat pembagian rapot merupakan momen yang sangat di tunggu-tunggu, Alhamdulillah kelas X semester I dan semester II aku mendapatkan rangking II dan rangking I, aku sangat bersyukur karena kualitas diriku meningkat dari sebelumnya, meski kesedihan sering menghampiri saat melihat teman-temanku ketika pengambilan rapot mereka selalu ditemani orang tuanya.

Seringkali aku meminta kepada Allah agar suatu saat nanti ketika aku meraih kesuksesan yang aku inginkan ibuku ada dihadapanku. Untuk menutupi kebutuhan dan uang jajan aku biasa jualan gorengan milik tetangga, dijajakan kepada seluruh santri dengan mendapatkan upah sekali jualan 4000-7000.

Ketika pulang libur tengah semester karena tidak memiliki uang aku biasa numpang mobil truk pengantar arang batok kelapa (milik tetangga) dari Bandung sampai ke Tasikmalaya begitupun sebaliknya ketika aku kembali ke Pondok. Walaupun sangat banyak ujian dan kekurangan finansial selama tinggal di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah aku sangat bahagia dan bersemangat, karena aku mumpunyai cita-cita besar.

Ketika aku masih kelas X ada beberapa orang kakak kelas yang lulus SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di berbagai PTN di Indonesia. Saat kelas X semester II aku sangat termotivasi, aku yakinkan dan katakan kepada Allah di setiap sepertiga malamku agar Allah meluluskanku dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tahun 2015 di Universitas Gadjah Mada Jurusan Ilmu sejarah dengan mendapatkan beasiswa Bidikmisi.

Aku katakan dan aku yakinkan kaepada orang-orang "Tahun 2015 aku Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Jurusan Ilmu Sejarah dengan mendapatkan Beasiswa Bidikmisi" dan aku mohonkan disetiap sujudku agar Allah Swt mengabulkannya. Aku belajar semaksimal yang aku bisa, aku bikinkan puisi dengan judul "UGM Kampusku", aku bikinkan kata-kata semangat seputar UGM dan aku tempel di dinding Kobong (Asrama santri).Jangan Pernah takut membentuk cita-cita. Kita Bisa! Kita sangat Powerfull! Tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki tekad dan keberanian. Buatlah mimpi yang besar dan bergeraklah dari sekarang  

Hidup adalah tantangan yang harus dihadapi, dibalik semangat dan cita-cita kuatku tidak sedikit teman-teman yang mencaci dan memberikan keyakinan negatif, bahwa cita-citaku kuliah di UGM merupakan ekspektasi tidak mungkin. Aku tidak menyerah, aku terus menyemangati diri serta semakin aku tunjukan keinginanku untuk kuliah di UGM dengan mengikuti berbagai perlombaan agar aku mumpunyai banyak pretasi.

Tahun 2015 aku mengkuti lomba baca puisi alhamdulillah aku mendapatkan juara II sebagai pembaca puisi terbaik se-kabupaten Bandung Barat tingkat remaja dan Juara III sebagai pembaca puisi terbaik dalam acara Al-kautsar Festival Islami tahun 2015.

Waktu membawaku tanpa sadar aku sudah kelas XII MA (Madrasah Aliah). Dengan semangat aku mendaftar SNMPTN. Pilihan pertama karena usulan dari guru BP, aku menganmbil Jurusan Ilmu Hukum UGM, Pilihan ke-2 Jurusan Ilmu Sejarah UGM dan Pilihan ke-3 Jurusan Pendidikan Sejarah UPI. Selesai melakukan pendaftaran aku merasa lega dan tawakal kepada Allah semoga Allah meluluskanku. Satu bulan sudah dari waktu melakukan pendaftaran dan saatnya hasil SNMPTN akan diumumkan, hasil yang aku dapatkan ternyata belum saatnya aku menjadi mahasiswa UGM.

Aku sempat sedih dan patah semangat tapi aku yakinkan bahwa aku masih punya jalan lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan aku ingat janji Allah "Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan ada kemudahan".

Dengan harapan baik dan ucapan penuh doa aku mendaftar SBMPTN dengan kembali kepada niat awal untuk mengambil jurusan Ilmu Sejarah. Pilihan ke-1 Jurusan Ilmu Sejarah UGM, Pilihan Ke-2 Jurusan Ilmu Sejarah UNS dan Pilihan Ke-3 Jurusan Ilmu Sejarah UNPAD. Saat hari-hari melakukan tes aku awali dengan shalat duha dan tak lupa sambil mengerjakan tugas aku mohonkan kemudahan dari Allah "Allahuma Yassir Walatu’assir" Ya Allah Permudahkanlah Urusanku Jangan Engkau Persulit. Selesai melakukan tes, selama satu bulan penantian aku pusatkan pikiran untuk tawakal kepada Allah SWT. Sesuai dengan janjinya "Apabila kamu sudah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah".

Satu bulan akan segera berlalu dan aku sangat ingin ketika pengumuman SBMPTN aku disaksikan oleh ibu, karena selama enam tahun aku menuntut ilmu ibu belum tahu tempatku dan momen pengumuman SBMPTN merupakan momen berharga dan antara bukti sukses atau gagal selama enam tahun perjuanganku menuntut ilmu dan jauh dari ibu. Alhamdulillah ibu memenuhi keinginanku dia akan datang ke pondok menyaksikanku menerima hasil tes SBMPTN. Agar bisa pergi ke Bandung ibu meminjam uang Rp.300.000 dari tetangga.

Tanggal 9 Juli 2015 ibu sudah ada di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Dan selesai shalat isya secara berjamaah (bersama-sama) disakasikan seluruh santri pengumuman SBMPTN akan dibuka. Saat itu jumlah santri Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah yang mendaftar SBMPTN sebanyak 22 orang dan semuanya dibuka secara berjamaan dengan selembar kertas yang sebelumnya sudah di printkan oleh pengurus pondok secara rahasia. Karena meliputi pendaftaran dan lembar pormulir SBMPTN begitu beres tes aku dan rekan-rekan tidak diperbolehkan untuk memegangnya, karena semuanya sudah diurusi oleh pengurus pondok.

Suasana aula dipenuhi dengan aroma wajah penuh harapan, sederet santri putra dan santri putri menyaksikan aku dan teman-teman yang berada ditengahtengah mereka. Sebelum lembar kertas dibagikan satu-persatu terlebih dahulu pimpinan pondok memberikan wejangan dan berdoa agar kami diberikan keiklasan dan percaya kepada takdir Allah.

Lembaran demi lembaran kertas sudah hampir habis dibagikan kepada 22 orang santri peserta SBMPTN, dengan komando keras diawali dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim agar kertas yang sudah di pegang dibuka dan yang dinyataakan lolos dipersilahkan untuk sujud sukur. Aku berdoa berdasarkan doa yang biasa aku panjatkan, aku pandangi wajah ibu, aku ikhlaskan diri, aku lihat teman-teman dan belum ada satu oarangpun yang sujud syukur.

Aku ucapkan Bismillahirahmanirrahim, aku beranikan diri untuk membuka kertas dan aku baca dengan teliti tulisan yang ada dikertas dan Alhamdulillah "SELAMAT ANDA LULUS DI JURUSAN ILMU SEJARAH UNIVERSITAS PADJADJARAN" aku menangis mengeluarkan air mata bahagia, aku peluk ibu, aku bersujud dipangkuannya dan aku sangat bersyukur dan ini merupakan kasih sayangi Allah Swt buah dari perjuangan dan kesabaran.

Mencoba belum tentu menjamin keberhasilan kalau tidak mencoba sudah pasti menjamin kegagalan. Prinsip keyakinan dapat mengalahkan segalanya adalah senjata sukses yang mampu dan yakin akan kekuatan Allah, kemampuan diri sendiri dan kebermanfatan untuk orang banyak. Aku hanya bisa memilih dan Allah Swt yang menetapkan. Keinginanku kuliah di UGM buah dari kerja keras, berdoa, dan berkeyakinan positif Allah menetapkanku di universitas yang terbaik untuknya dan pastinya untuku. Alhamdulillah kemudahan demi kemudahan aku temukan di Universitas Padjadjaran.

Mendapatkan Beasiswa Bidikmisi, Juara II Debat antar angkatan Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Juara II Lomba Baca Puisi Minangkata FIB UNPAD ke-58, 6 Besar Terbaik Duta Wisata dan Budaya/Mojang Jajaka Kab.Tasikmalaya 2016, lolos 32 esai terbaik dari 114 Peserta Esai Nasional "Perlindungan Bangsa Terhadap Kekerasan Seksual Pada Perempuan" di Universitas Negeri Padang, dan Mewakili Universitas Padjadjaran dalam Lomba Debat Nasional "Eksistensi Perempuan di Era Globalisasi" di Universitas Negeri Padang.

Hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan, selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Saat kesusahan menerpaku, saat itulah Allah mewariskan semangat, pantang menyerah, kerja keras, dan berani menjadi yang berbeda. Mengalahkan rasa takut kunci utama. Bukan kekurangan finansial yang menjerumuskan pada kegagalan, justru alasan-alasan yang harus di hindarkan. Salam sukses dan semangat dariku (Anas Anwar Nasirin) berbekal pesan Anthonio Robbins,

 Sumber: https://www.defantri.com/2019/05/

Membeli Keringat Guru

Cerita Inspiratif 

Membeli Keringat Guru

 

Dalam sebuah diskusi, seorang murid bertanya kepada guru nya,

Murid : "jika memang benar para guru adalah orang orang pintar!, mengapa bukan para guru yang menjadi pemimpin dunia, pengusaha sukses, dan orang orang kaya raya itu?

Gurunya tersenyum bijaksana, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia masuk ke ruangan nya, dan keluar kembali dengan membawa sebuah timbangan.

Ia meletakkan timbangan tersebut diatas meja, dan berkata : " Anakku, ini adalah sebuah timbangan, yang biasa digunakan untuk mengukur berat emas dengan kapasitas hingga 5000 gram".

"Berapa harga emas seberat itu?"

Murid mengerutkan keningnya, menghitung dengan kalkulator dan kemudian ia menjawab,

"Jika harga satu gram emas adalah 800 ribu rupiah, maka 5000 gram akan setara dengan 4 miliar rupiah".

Guru : "Baik lah anakku, sekarang coba bayangkan seandainya ada seseorang yang datang kepada mu membawa timbangan ini dan ingin menjual nya seharga itu, adakah yang bersedia membeli nya?"

Murid terdiam sejenak!, merasa mulai mendapatkan sedikit pencerahan dari sang guru, lalu ia berkata : "timbangan emas tidak lebih berharga dari emas nya!, saya bisa mendapatkan timbangan ini dengan harga dibawah dua juta rupiah!, mengapa harus membayar sampai 4 miliar? "

Guru menjawab : "Nah, anakku, kini kau sudah mendapatkan pelajaran, bahwa kalian para murid, adalah seperti emas, dan kami adalah timbangan akan bobot prestasi mu, kalian lah yang seharusnya menjadi perhiasan dunia ini, dan biarkan kami tetap menjadi timbangan yang akurat dan presisi untuk mengukur kadar pengetahuan mu."

"Jika ada seseorang datang kepada mu membawa sebongkah berlian ditangan kanan nya dan seember keringat di tangan kirinya, kemudian ia berkata : "ditangan kiri ku ada keringat yang telah aku keluarkan untuk menemukan sebongkah berlian yang ada ditangan kanan ku ini, tanpa keringat ini, tidak akan ada berlian, maka beli lah keringat ini dengan harga yang sama dengan harga berlian"

"Apakah ada yang mau membeli keringat nya?"

"Tentu tidak."

"Orang hanya akan membeli berlian nya dan mengabaikan keringat nya.
Biarlah kami, para guru menjadi keringat itu, dan kalian lah yang seharusnya menjadi berlian nya. "

Sang murid menangis, ia memeluk guru nya dan berkata : "wahai guru, betapa mulia hati kalian, dan betapa ikhlasnya, kami tidak akan bisa melupakan kalian, karena dalam setiap kepintaran kami, setiap kilau permata kami, ada tetes keringat mu...

Guru berkata : "Biarlah keringat itu menguap, menuju alam hakiki disisi ilahi rabbi, karena hakikat akhirat lebih mulia dari segala pernak pernik dunia ini, mohon jangan lupakan nama kami dalam doa kalian."

 Sumber:https://www.defantri.com/2020/11/

Orang Tua Polos dan Sederhana Ini, Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru

  Orang Tua Polos dan Sederhana Ini, Menyadarkanku Bagaimana Menjadi Seorang Guru

Kisah nyata dari seorang teman guru yang bisa kita jadikan inspirasi atau motivasi menjadi guru yang profesional, mari kita simak kisah inspiratif yang sudah tersebar luas di media sosial, saya juga dapat dari facebook teman yang juga seorang guru.

Seperti biasa setiap pagi sebagai upaya pendidikan karakter di sekolah kami terjadwal bapak/ibu guru untuk berjabat tangan dengan para siswa secara bergantian.

Hal ini sebenarnya bukan hal baru atau terobosan yang spektakuler alias sudah lumrah dilakukan oleh sekolah-sekolah apalagi untuk tingkat SD dan SMP. Namun di SMA pun sekarang juga sudah membiasakan kegiatan ini berlangsung.

Saya yang kebetulan waktu itu ditugasi sebagai wakil kepala sekolah urusan kesiswaan tiap hari harus melaksanakan kegiatan jabat tangan berbarengan dengan bapak/ibu guru yang mendapat jadwal bertugas. Saya selalu menempatkan diri di paling ujung dekat pemberhentian para siswa yang diantar oleh orang tua atau siswa yang naik angkot.

Sekolah saya termasuk sekolah yang notabene favorit di tingkat kabupaten sehingga siswa kami memang mayoritas dari kalangan ekonomi menengah keatas (untuk tingkat kabupaten lho). Pengantar ada yang menggunakan mobil mewah, sedang, naik angkot bahkan juga ada yang menggunakan sepeda motor buthut.

Buat saya sebenarnya tidak begitu memperhatikan kendaraan apa yang digunakan oleh siswa, yang terpenting adalah siswa datang ke sekolah tidak terlambat, makanya saya tidak pernah hiraukan secara khusus kendaraan apa yang digunakan oleh siswa (orang tua siswa).

Namun ada hal yang sangat menarik buat saya adalah ada orang tua mengantar anaknya menggunakan sepeda motor BMW (bebek merah warnanya) kira-kira buatan tahun1975. Setelah anaknya masuk di pintu gerbang sekolah orang tersebut lantas duduk di trotoar di samping sepeda motornya sambil menulis di buku kecil.

Semula saya juga tidak menaruh perhatian terhadap orang tersebut, pikirku beliau sedang merencanakan sesuatu kemudian ditulisnya. Namun karena hampir setiap hari orang ini selalu di tempat yang sama dengan kegiatan yang dilakukan juga hampir sama saya kemudian muncul rasa penasaran untuk tahu apa yang dilakukannya.

Suatu hari setelah saya selesai lakukan tugas jabat tangan lantas menedekati beliau sambil menanyakan nama, alamat dan juga putrinya kelas berapa...ya layaknya sebagi tuan rumah lah kira –kira begitu, sambil saya mengamati sepeda motor yang digunakan untuk mengantar putrinya.

Terlihat jelas di bagian depan sepeda motor ada bungkusan (bagor) terlihat isinya benda-benda keras.

Setelah jabat tangan dan kenalan kemudian saya beranikan diri bertanya:
Saya : "pak mohon maaf ya... saya kok setiap hari melihat bapak sehabis antarkan anak lalu duduk di sini sambil urak-urik... apa yang bapak lakukan?"

Beliau: "iya pak... anak saya itu dulu waktu di SMP selalu juara 1 dari kelas 1 sampe kelas 3 (waktu itu belum 7,8 dan 9) saya kemudian menyekolahkan ke SMA ini karena kata orang sekolah ini favorit"
Saya : "lalu apa hubungannya dengan yang bapak lakukan tiap hari di sini?"

Beliau: "pak... anak saya itu sudah piatu, hidup bersamaku dengan ala kadarnya, bungkusan di motor saya itu adalah daganganku berupa alat pertanian dan rumah tangga: arit, gathul, obeng cethok dll, itu yang saya gunakan untuk hidup dan menyekolahkan anakku, aku ingin anakku bisa memperbaiki nasib dan masa depannya jangan sampai nasib orang tuanya ini menurun ke anakku... makanya aku mati-matian menyekolahkan anakku ke SMA ini yang katanya favorit.... aku ingin buktikan benar nggak sekolah ini dapat membantu mengubah masa depan anakku...

setiap pagi aku menulis di buku kecil ini berisi tentang kedisiplinan guru, berapa banyak guru yang datang terlambat.... bagaimana mungkin bisa meraih prestasi sebaik mungkin kalau gurunya saja banyak yang datang molor... terus terang pak saya sangat berharap melalui sekolah ini masa depan anakku akan lebih baik dari aku... tolong pak sampaikan kepada kepala sekolah juga kepada bapak/ibu guru bahwa di luar sana (aku) sangat berharap banyak terhadap pendidikan di sekolah ini untuk mengantarkan masa depan anakku.."

Mendengar jawaban dan uraian harapan orang itu terasa ditampar mukaku, sesak rasa di dada dan seakan lunglai tiada tenaga. Apa yang disampaikan orang itu adalah salah satu saja dari sekian wakil orang tua siswa. Ingatanku tertuju pada anakku yang waktu itu juga masih SMP dan SD, jangan-jangan di sekolah anakku juga gurunya datang molor, tidak menguasai materi, dan tidak kompeten. Lalu bagaimana bisa mengantarkan cita-cita anakku kalau gurunya tidak kompeten? Jika itu yang terjadi di sekolah anakku demi Alloh aku tidak rela menyekolahkan anakku di sekolah itu.

Anganku kemudian tertuju pada diriku, seribu pertanyaan berkecamuk, bagaimana diriku, kedisplinanku, keteladananku, kompetensiku dan seterusnya dan saya yakin kalau orang tua siswa tahu bahwa di SMA ku gurunya tidak profesional mereka pun pasti tidak rela anaknya diajar oleh guru yang tidak profesional. Mungkin ini juga sama bahayanya dengan dokter yang salah mendiagnosa penyakit, mal praktek juga ada mal ngajar.

Percakapan kemudian saya lanjutkan.
Saya : "pak... tolong berikan masukan buat sekolah agar apa yang bapak harapkan bisa menjadi kenyataan"

Beliau :"maaf pak... di kelas anakku ada beberapa guru yang bagus menurut anakku (sambil menyebutkan namanya) tapi juga banyak guru yang masih memprihatinkan (sambil menyebutkan namanya juga)... saya mengucapkan trimakasih kepada bapak/ibu guru yang bagus semoga beliau dan keluarganya mendapat balasan dari Alloh atas kebaikannya dan saya juga mohon dengan hormat bapak/ibu guru yang belum bagus agar lebih baik (profesional:red), saya mohon pamit pak mau menjajakan dagangan saya... nuwun"

Saya:" baik pak... terima kasih telah memberikan masukan yang sangat berharga untuk saya dan sekolah..."

Saya masih belum beranjak dari tempat ngobrol tadi, sambil memandang beliau ngeslah "BMW" perasaan hatiku berkecamuk. Saya ingat kata-katanya : anaknya piatu, ingin memperbaiki masa depan, berharap sekolah bisa mengantarkannya, mendoakan guru yang sudah baik... Ya Alloh ya Robb... ampuni hambaMu ini... kami mendapat rezeki dari-MU yang saya gunakan untuk menafkahi keluargaku lantaran saya jadi guru... tapi apakah aku ini seorang guru yang sudah bisa memenuhi harapan orang tua siswa seperti harapan bapak tadi?

Bapak/ibu guru yang seprofesi denganku mari kita renungkan dan mari bersikap untuk lebih baik karena semua yang kita lakukan dan kita peroleh akan ada hitungannya di hari akhir. Mari berbagi hal-hal baik, agar semakin banyak hal baik di lingkungan kita.

Sumber:https://www.defantri.com/2017/03/